Jumat, 15 Agustus 2014

HARAJUKU STYLE









Harajuku Style atau Gaya Harajuku adalah fashion jepang yang diadopsi oleh para remaja di daerah tersebut, serta di sisi jalan daerah Harajuku juga memiliki banyak butik, toko trendi dan toko-toko pakaian bekas.

Jepang Harajuku Girls dan Harajuku Style digunakan untuk menggambarkan gaya berpakaian remaja Jepang dengan mengenakan berbagai model, mulai dari Gothic Lolita (juga Loli Gothic), Visual Kei, Ganguro, Gyaru, Kogal, untuk cute “Kawaii gaya pakaian”. Mereka juga berpakaian seperti karakter anime atau manga (yang dikenal sebagai cosplay).


Harajuku (原宿) adalah sebutan populer untuk kawasan di sekitar Stasiun JR Harajuku, Distrik Shibuya, Tokyo. Kawasan ini terkenal sebagai tempat anak-anak muda berkumpul. Lokasinya mencakup sekitar Kuil Meiji, Taman Yoyogi, pusat perbelanjaan Jalan Takeshita (Takeshita-dōri), department store Laforet, dan Gimnasium Nasional Yoyogi. Harajuku bukan sebutan resmi untuk nama tempat, dan tidak dicantumkan sewaktu menulis alamat.
Sekitar tahun 1980-an, Harajuku merupakan tempat berkembangnya subkultur Takenoko-zoku. Sampai hari ini, kelompok anak muda berpakaian aneh bisa dijumpai di kawasan Harajuku. Selain itu, anak-anak sekolah dari berbagai pelosok di Jepang sering memasukkan Harajuku sebagai tujuan studi wisata sewaktu berkunjung ke Tokyo.
Sebetulnya sebutan "Harajuku" hanya digunakan untuk kawasan di sebelah utara Omotesando. Onden adalah nama kawasan di sebelah selatan Omotesando, namun nama tersebut tidak populer dan ikut disebut Harajuku.

SEJARAH

Sebelum zaman Edo, Harajuku merupakan salah satu kota penginapan (juku) bagi orang yang bepergian melalui rute Jalan Utama Kamakura. Tokugawa Ieyasu menghadiahkan penguasaan Harajuku kepada ninja dari Provinsi Iga yang membantunya melarikan diri dari Sakai setelah terjadi Insiden Honnōji.

Di zaman Edo, kelompok ninja dari Iga mendirikan markas di Harajuku untuk melindungi kota Edo karena letaknya yang strategis di bagian selatan Jalan Utama Kōshū. Selain ninja, samurai kelas Bakushin juga memilih untuk bertempat tinggal di Harajuku. Petani menanam padi di daerah tepi Sungai Shibuya, dan menggunakan kincir air untuk menggiling padi atau membuat tepung.
Di zaman Meiji, Harajuku dibangun sebagai kawasan penting yang menghubungkan kota Tokyo dengan wilayah sekelilingnya. Pada tahun 1906, Stasiun JR Harajuku dibuka sebagai bagian dari perluasan jalur kereta api Yamanote. Setelah itu, Omotesando (jalan utama ke kuil) dibangun pada tahun 1919 setelahKuil Meiji didirikan.
Setelah dibukanya berbagai department store pada tahun 1970-an, Harajuku menjadi pusat busana. Kawasan ini menjadi terkenal di seluruh Jepang setelah diliput majalah fesyen seperti Anan dan non-no. Pada waktu itu, kelompok gadis-gadis yang disebut Annon-zoku sering dijumpai berjalan-jalan di kawasan Harajuku. Gaya busana mereka meniru busana yang dikenakan model majalah Anan dan non-no.
Sekitar tahun 1980-an, Jalan Takeshita menjadi ramai karena orang ingin melihat Takenoko-zoku yang berdandan aneh dan menari di jalanan. Setelah ditetapkan sebagai kawasan khusus pejalan kaki, Harajuku menjadi tempat berkumpul favorit anak-anak muda. Setelah Harajuku makin ramai, butik yang menjual barang dari merek-merek terkenal mulai bermunculan di Omotesando sekitar tahun 1990-an.


Minggu, 21 Oktober 2012

JAPAN FASHION STREET

Kalau jalan-jalan ke jepang pemandangan seperti ini nih yang sering terlihat dijalan. Catwalk berjalan, man.
Dari perempuan mpe laki-lakinya semuanya fashionable banget. Nih dikasih lihat gambar-gambarnya siapa tahu bisa memberikan inspirasi dalam bergaya biar casual dan trendy ala jepang. Halaman ini juga berkaitan dengan : Gaya busana, Harajuku, gaya berbusana harajuku, contoh gaya harajuku, Japan fashion, Japan Fashion Pictures, Japan Fashion Street, Mode berpakaian wanita jepang, Mode berpakaian pria jepang





Senin, 22 Agustus 2011

Batik dan Kimono Menyatukan Indonesia dan Jepang


Batik dan kimono kiranya sanggup menalikan Indonesia dan Jepang karena kedua kain itu merupakan kebanggaan sekaligus identitas masing-masing negara.
Karena pertalian itu pula, pameran bertajuk Indonesia-Jepang: Jalinan Dua Negara, Mengangkat Tradisi Warisan Leluhur digelar di Museum Tekstil, di Jalan Aipda K Sasuit Tubun, Jakarta, tanggal 7-13 Desember 2009.
Sejumlah koleksi batik dan kimono dipamerkan di ruang utama. Batik yang dipajang mulai kain panjang pagi-sore pekalongan, batik keraton, sampai aneka rancangan batik masa kini dari sejumlah desainer ternama Indonesia.
Batik yang dipajang sebagian sudah tua. Koleksi keraton yang ditampilkan ada yang diciptakan pada abad ke-17 atau pada masa Sultan Agung, seperti batik yang dikenal dengan nama Semen Huk. Batik motif semen yang juga bermotif non-geometris ini merupakan akulturasi budaya Jawa, Hindu, serta Islam.
Kain panjang pagi-sore pekalongan, misalnya, kerap dipakai ibu-ibu di pesisir pantai utara pada era penjajahan dulu. Kain dengan dua motif ini bisa dipakai untuk pagi dan sore hari dengan gambar yang berbeda. Motif ini menjadi solusi yang baik di tengah zaman yang sulit sekitar tahun 1940.
Jepang juga tidak kalah eksotik. Beragam koleksi kimono serta teknik pembuatan kain dipamerkan. Aneka kimono itu ada yang khusus digunakan untuk perempuan yang masih lajang dan ada yang dipakai saat pernikahan. Motif pada kimono membedakan peruntukan penggunaan kimono itu. Kimono dibuat dengan beragam teknik, seperti tenun, border, dan lukis.
Teknik pembuatan kain dari serat pisang juga sudah dikenal sekitar abad ke-13 di Okinawa dan sering disebut Basho-fu. Kain serat pisang ini digunakan untuk pelbagai kebutuhan, termasuk untuk sarung bantal.
Ada pula sekitar 70 potong kain tenunan seperti lurik yang dikenal dengan sebutan Shimagara. Teknik tenunan ini sudah berusia puluhan tahun.
Ada juga sebuah hiasan dinding di atas kain sutra berukuran 6,5 meter x 3 meter, dibuat dengan teknik semacam jumputan. Hiasan bertajuk Bunga Sakura di Malam Hari yang Diterangi Cahaya Obor itu menggambarkan dahan pohon sakura dilihat dari bawah pohon. Karya lain diberi judul Gozan, menggambarkan pegunungan dengan bulan di antaranya. Keduanya merupakan koleksi Kyoto Shibori Kougeikan.
Saling memperkaya

Guru besar Fakultas Ilmu Politik dan Ekonomi Kokushikan University Jepang, Masakatsu Tozu, mengatakan, pameran ini memperkaya khazanah tekstil di dunia. ”Silakan saja pengunjung belajar seluruh motif, teknik, dan gagasan dari batik atau kimono yang dipamerkan. Siapa tahu ada motif baru yang lahir dari percampuran batik dan kimono ini,” tutur Tozu.
Masyarakat Jepang, menurut Tozu, amat mengenal batik. Ia mengaku punya koleksi 3.500 potong kain batik, bahkan sudah terbiasa memakai batik dalam kesehariannya.
Percampuran batik terlihat pada obi—ikat pinggang untuk kimono. Sejumlah motif batik digoreskan pada obi. Karena itu, eksplorasi batik dan kimono masih terbuka lebar. Apalagi, batik telah dikukuhkan sebagai Warisan Budaya Dunia Non-Kebendaan oleh UNESCO, 2 Oktober silam. Pengukuhan ini, memperkuat pengakuan batik Indonesia di seantero sedunia.
Kepala Unit Pelaksana Teknis Museum Tekstil Indra Riawan mengakui, pelaksanaan pameran ini sebagai kelanjutan dari pengukuhan batik sebagai Warisan Budaya Dunia Non-Kebendaan. (Agnes Rita Sulistyawaty